One Year of The IOI: A Volunteer's Story Unfolded [Part 2]
![]() |
Hanya Nama
Setelah pengumuman, kami dimasukkan ke dalam grup whatsapp yang isinya adalah para volunteer yang lolos seleksi. Kami diundang ke dalam grup oleh seseorang yang bernama Anastasia. Wanita yang nantinya kami panggil dengan Kak Tasya ini ternyata adalah istri dari Kak Reinhart. Dia sangat ramah kepada kami dan satu hal yang paling aku ingat di awal perkenalan secara virtual kami di grup whatsapp adalah dia selalu meminta kami untuk tidak membalas pesan yang dikirimkannya di WhatsApp. Katanya, itu akan menimbun informasi yang telah disampaikan.
Kak Tasya pada akhirnya mengirimkan sebuah tautan tentang informasi teman-teman volunteer ke grup. Katanya, "biar kalian bisa ngobrol sama yang satu domisili". Klik. Aku menekan tautan tersebut dan yang aku lihat adalah nama-nama dari orang yang nantinya akan menjadi teman-temanku di Yogyakarta. Yang masih aku ingat sekarang, ada nama Gabriel Kaunang. Selain karena namanya ada di bagian paling atas list, nama itu menurutku sangat uncommon untuk didengar. Keren aja gitu. Selain Gabriel, masih banyak teman-teman lain yang namanya unik dan bila dilihat dari nama-namanya, sudah bisa dipastikan kalau calon teman-temanku ini berasal dari latar belakang yang bervariasi. Dari daerah asal hingga kampus tempat mereka belajar, you name it.
Aku baru bisa melihat wajah teman-teman pada pembekalan yang diadakan secara daring. Itupun aku tidak begitu memperhatikan kehadiran mereka satu persatu karena aku hanya memperhatikan brief yang diberikan oleh panitia. Dari briefing yang diberikan, antusiasmeku untuk terlibat dalam acara ini semakin meningkat. Sebenarnya ada banyak worst case scenario yang sudah aku bayangkan ketikan panitia memberikan briefing acara. Namun entah kenapa aku justru menganggapnya sebagai hal asik yang nantinya akan aku jalani.
Oiya. Sebelum agenda kompetisi berlangsung, kami hanya diberi dua kali briefing. Satu secara daring dan satunya secara luring, itupun H-1 acara. Bisa dikatakan bahwa itu adalah keputusan yang berani dari panitia. Walau demikian, keputusan itu dapat dipahami karena itu adalah satu-satunya pilihan di kondisi yang terbatas. Tercecernya keberadaan para volunteer yang tercecer di berbagai wilayah di penjuru negeri dan pandemi COVID-19 yang masih menjamur di sejumlah wilayah kian membatasi opsi yang dimiliki panitia.
Di akhir sesi pembekalan, seorang bapak-bapak yang aku lupa namanya itu mencetuskan sebuah jargon untuk kami. "IOI 2022?" dijawab dengan "MONGGOOOOOOOOO". Briefing hari itu selesai di tengah hari. Dengan berakhirnya sesi pembekalan, maka jalannya acara hanya tinggal menunggu beberapa pekan saja.
Off To Yogyakarta
Adalah Yogyakarta yang menjadi tujuan keberangkatanku kali ini. Kota yang selama bergenerasi telah menjadi destinasi para mahasiswa untuk belajar di perguruan tinggi. Berbeda dari perjalanan keretaku yang biasanya aku tempuh lewat Stasiun Waru atau Sidoarjo, untuk perjalanan ini aku memesan tiket dari Stasiun Gubeng. Alasan utamanya adalah agar Ibu bisa langsung bertolak ke rumah eyangku yang letaknya tidak begitu jauh dari Stasiun perhentian kereta milik Ibu Kota Jawa Timur tersebut. Ibu sendiri yang memiliki ide tersebut jadi aku turuti saja.
Tepatnya tanggal 4 Agustus 2022, aku berangkat dari rumahku yang terletak di Sidoarjo menuju Stasiun Gubeng. Aku dan Ibu berangkat usai kami berdua melaksanakan sholat duhur di Masjid yang terletak dekat rumah. Memang waktu tempuh dari rumah menuju Stasiun Gubeng tidak lebih dari 1 Jam. Namun entah mengapa, seingatku, aku tiba di sana mendekati sekitar jam 2 yang mana itu adalah waktu keberangkatan keretaku. Sesampainya di depan Stasiun Gubeng, aku mendengar interkom berbunyi. Dari sana, disampaikan bahwa kereta Sri Tanjung, keretaku, akan segera berangkat. Di sinilah, suatu masalah terjadi.
Teriknya panas matahari di siang itu membuat diriku mempercepat langkahku ke dalam Stasiun. Sesampainya di dalam, aku langsung memindai tiket elektronik yang ada di aplikasi milik KAI dan bergegas masuk menuju kereta yang akan membawaku ke Yogyakarta. Saat memasuki gerbong yang tertera pada tiketku, janggalnya, ada orang yang sudah menduduki tempat duduk milikku. "Oh, maaf mas" kata pemuda yang duduk di situ sambil dirinya bersegera meninggalkan tempat duduk. Aku pun meletakkan tas punggung milikku di rak atas dan kemudian menyandarkan kepalaku di jendela. Cuaca yang sangat panas di siang hari itu membuat energiku terkuras cukup cepat dan berdampak pada mataku yang mulai merasakan kantuk. Tak lama, roda kereta api mulai berputar pertanda bahwa kereta telah bergerak meninggalkan stasiun pemberhentian.
![]() |
| Foto yang aku ambil sebelum masuk kereta. (Disempurnakan dengan outpainting dari DALL·E) |
Selepas kereta memulai perjalanan, aku hampir langsung terlelap. Namun keringat di wajah dan detak jantung yang masih tidak normal tetap menjagaku untuk membuka mata. Aku mengeluarkan ponsel, dan mengabari Ibu bahwa keretaku ke Stasiun Lempuyangan sudah bergerak. Pesan terkirim.
13.55 WIB
"HAH?!", kataku dalam hati saat melihat pukul berapa pesanku terkirim kepada Ibuku. Aku baru sadar bahwa keretaku harusnya berangkat jam 14.10 dari Stasiun Gubeng. Aku mengerti betul bahwa layanan kereta api dari PT. KAI sangat tepat waktu dalam urusan jadwal. Hal itu berarti bukan hanya kereta selalu datang tepat waktu di setiap tujuan, tapi juga berangkat tepat waktu dari setiap stasiun keberangkatan. "IKI TERUS SEPUR SRI TANJUNG OPO COKKKK?????" kataku dalam hati sambil kebingungan. Jantungku yang sebelumnya masih dag dig dug karena berlarian dari luar Stasiun Gubeng kini berdetak lebih kencang karena aku salah naik kereta. Beberapa saat sebelum kereta berhenti di Stasiun Wonokromo, seorang Polisi Kereta Api (Polsuska) mampir di kamar mandi yang terletak di bordes gerbong yang aku tempati. Dengan panik, aku langsung tanya ke beliau: "Pak, ini bener Sri Tanjung ke Yogyakarta kan?". Dengan logat agak ngapak, beliau menjawab: "Lho bukan mas. Ini Sri Tanjung tujuan akhir Banyuwangi". Damn.
Aku menjelaskan situasiku kepada Pak Polsuska. Ia menyuruhku untuk mengambil barang bawaanku kemudian menyuruhku turun di Stasiun Wonokromo untuk menunggu Kereta Sri Tanjung yang "asli" lewat. Beliau menjelaskan kepadaku bahwa memang terdapat dua Sri Tanjung dan tidak ada perbedaan nama sedikitpun di antara keduanya. Jadi beliau memintaku untuk lebih jeli dalam melihat jadwal keberangkatan. Mendekati jam 14.00, Kereta Sri Tanjung berhenti di Stasiun Wonokromo dan aku turun di sana. Saat duduk di ruang tunggu Stasiun Wonokromo, aku sempet nge-freeze sebentar membayangkan bila aku tadi tertidur, maka besar kemungkinan bahwa keberadaanku nantinya malah ada di Timur Pulau Jawa. Bukannya volunteering, malah balik Jember dong aku? Gak masuk akal blas.
Setelah ditunggu beberapa waktu, Kereta Sri Tanjung yang sesungguhnya tiba. Sebelum naik ke dalam, aku pastikan kepada petugas bahwa kereta tersebut betul ke Yogyakarta dan petugas berkata iya. Hal tersebut membuatku tenang dan pada akhirnya, off I go to Yogyakarta!
Early Time in Yogyakarta
Dari Surabaya, dibutuhkan kurang lebih 6 jam bagi kereta untuk menjangkau Yogyakarta. Dengan demikian, maka kereta akan sampai di Stasiun Lempuyangan pada pukul 8 malam. Sejak awal, aku memang berencana untuk datang beberapa hari sebelum acara dimulai. Aku berdalih kepada Orang tuaku bahwa aku ingin membantu mempersiapkan starter pack untuk para peserta dan volunteer, sekalian agar aku bisa kenal duluan sama rekan-rekan yang lain.
Dikarenakan aku tiba lebih awal ketimbang jadwal yang disarankan oleh panitia, maka Mbakku mengajakku untuk tinggal di kosannya saja. Sebenarnya aku tidak mau tapi kawanku sekelas di SMA, Aldyth, sudah berangkat KKN ke Miangas sehingga aku tidak bisa nebeng di sana. Kosan Kakak lah pilihan satu-satunya. Mulanya, Mbakku bilang kalau akan menjemputku setibanya aku di Stasiun Lempuyangan. Namun Mbak sendiri yang membatalkan janjinya. Katanya, ia sedang ada kursus online dan aku disuruh untuk naik ojek online menuju kosannya. Oke ngga masalah, walaupun ternyata jarak stasiun cukup jauh dengan kosannya.
Aku mengobrol banyak dengan Pak Driver. "Dari Surabaya, mas?" Nampaknya, beliau sangat mengenali logat Surabayaan yang aku pakai saat berbicara bersamanya. Di sepanjang perjalanan, kami banyak bicara mengenai sepakbola dan ternyata beliau dulunya juga sering berkunjung ke Surabaya untung menonton laga tandang di Stadion Gelora Bung Tomo. Obrolan sepakbola kami kian seru dan tak terasa, obrolan tersebut telah mengantarkan kami ke dekat kosan Kakak. Aku menelepon Kakak beberapa kali, namun entah panggilannya tidak dijawab atau justru ditolak. Pada akhirnya, Kakak mengangkat telpon sambil sedikit membentak dan katanya dia sedang tidak bisa diganggu karena sedang ada kelas online. Hal itu membuatku bingung dan kesal. Tanpa pikir panjang, aku meminta tolong kepada Pak Driver untuk putar balik dan menurunkanku di Warmindo yang letaknya sekitar beberapa ratus meter dari kosan Kakak. Beliau menyetujui dan aku langsung memesan sepiring nasi goreng setibanya aku di sana.
Mbak baru menyusulku sekitar 45 menit setelah nasi gorengku habis. Kesel emang nunggunya karena saat itu aku sedang sangat lelah. Saat dia tiba, tanpa banyak bicara aku naik ke motornya. Sesampainya di tempat mbak, aku langsung menjamak sholat isya dan maghrib yang belum aku tunaikan dan setelahnya, aku langsung tidur.
Bukan Lagi Hanya Nama
Walau semalam aku sangat kelelahan, tapi aku tetap bangun saat adzan subuh berkumandang. Setelah aku menunaikan kewajibanku sebagai umat Islam, aku hanya rebahan di lantai untuk meluruskan punggungku yang menjadi lemas karena terhisap oleh busa kasur Kakakku. Pagi itu, bukan hanya aku yang bersiap-siap untuk beraktivitas. Kakakku juga harus berangkat ke kantor yang lokasinya tidak terlalu jauh dari kosannya. Kakak adalah orang yang cukup disiplin. Kegiatannya di pagi hari itu menunjukkan bahwa ia adalah orang yang cukup tertata. Usai Sholat subuh, dia langsung mempersiapkan apa-apa saja yang harus dilakukan dan dibawa menuju tempatnya bekerja. Walau demikian, namanya perempuan tetap perempuan. Lama siap-siapnya. Sementara itu, aku tidak sesibuk Kakakku. Aku hanya mandi, dan mempersiapkan sejumlah barang seperti dompet, charger, juga ponsel milikku. Kami berangkat sekitar pukul 7 pagi. Mulai dari sini, cerita masuk ke H-2 acara.
Kakak menyuruhku untuk membawa motornya dan ia hanya minta untuk diturunkan di kantor, juga dijemput bila dia sudah meminta. Menurutku itu adalah ide yang bagus mengingat kemungkinan bahwa mobilitasku di hari itu cukup tinggi. Usai menurunkan Kakak di kantor, aku mengeluarkan ponsel untuk memetakan jalan menuju The Rich Hotel, yakni lokasi dimana tempat lomba, tempat pengemasan barang, juga tempat semua yang nantinya terlibat dalam acara akan tinggal. Dari kantor Kakak, jarak ke sana cukup jauh. Seingatku sekitar 15 km. Buat aku, mengendarai motor di kota Jogja cukup asik dan menantang. Asik karena aku bisa menjelajahi kota, dan menantang karena aku harus nyetir dengan satu tangan karena tangan kiriku dipakai untuk memegang ponsel. Landscape dari jalan juga cukup bagus. Banyak sawah di kiri kanan jalan yang mana hal tersebut bahkan di Surabaya sudah jarang terlihat.
Kondisi jalan yang sepi dan pemandangan yang menawan membuat perjalananku tak terasa telah mencapai sekitaran hotel. Aku memarkirkan motor di basement bangunan dan kemudian berjalan naik ke lobby hotel. Sebenarnya, aku sangat deg-degan karena akan bertemu orang-orang baru. Aku takut awkward saat memulai pembicaraan dan ..... intinya takut aja. Sesampainya di lobby, terlihat ada segerombolan orang di lobby yang sudah aku duga mereka pasti adalah volunteer berdomisili Jogja yang diminta oleh Kak Tasya untuk membantu. Namun begitu aku menghampiri, mereka semua langsung menuju ke ruangan lain. Pergi semua anjir. Ternyata Kak Tasya menginstruksikan mereka untuk ke camelia room —ruangan di bawah lantai dasar— untuk langsung memulai kegiatan bungkus membungkus merchandise. Aku menghampiri Kak Tasya, bertanya apakah aku langsung saja mengikuti para volunteer ke bawah? Kak Tasya justru bertanya balik, apakah aku telah melakukan swab antigen. Tentu saja belum. Kak Tasya kemudian mengarahkanku ke pelataran kolam renang untuk melakukan swab antigen. Syukurnya, hasil dari swab-ku negatif. Hasil ini memperbolehkan aku untuk bergabung dengan para relawan yang sudah berada di camelia room.
![]() |
| Me and Didi |
Aku berjalan sendiri menuju camelia room. Baru mau masuk ke dalam ruangan, aku langsung diminta untuk angkat-angkat sejumlah barang dan tongkat menuju ballroom hotel yang nantinya ruangan ini akan menjadi contest hall. Bersamaku, ada empat orang yang mengusung barang-barang ke contest hall. Tidak sampai situ, kamu juga diminta untuk menyusun sejumlah palang untuk perlengkapan acara. Yang jelas, rombongan ini berisi dua perempuan dan dua laki-laki. Salah seorang perempuan di situ mengajakku berkenalan dan momen tersebut memcahkan ketakutanku untuk memulai berbicara dengan orang baru. Ternyata, dia bernama Didi. Ia adalah seorang mahasiswi yang pada saat itu hampir lulus dari kampusnya. Dia mempelajari Sastra Inggris semasa berkuliah dan dapat didengar beberapa kali, Bahasa Inggrisnya memang sangat baik. Kesempatan tersebut juga aku gunakan untuk berkenalan dengan teman lain. Aku berkenalan dengan Amal. Dia adalah seorang mahasiswa UII. Aku lupa jurusannnya, namun nampaknya dia lebih muda dibandingkan denganku. Dua orang lainnya aku lupa siapa (SORRY). Amal dan Didi adalah dua orang teman baru pertamaku di acara ini. Mereka berdua lah yang juga menjadi jembatan bagiku untuk berkenalan dengan volunteer yang lain karena setelahnya, aku banyak jalan-jalan bareng Amal atau Didi.
![]() |
| Me and Gabriel a.k.a Gabs |
Seusai kami menyusun barang di contest hall, kami kembali turun ke camelia room. Ternyata, situasi di sana semakin rame. Aku yang agak ngos-ngosan habis angkat-angkat di atas pun langsung duduk di kursi yang melingkari meja. Di lingkaran itu, terdapat sejumlah teman-teman lain yang kemudian aku mulai berbaur dengan mereka. Di sebelah kananku, ada dua orang lain sementara di seberang meja, ada seorang yang nampak sangat positif dan bersemangat. Dia menanyakan nama kami satu persatu. "Namanya siapa?", tanya anak di seberang meja. "Aku Adrian" jawab seorang rekan yang duduk paling pojok kanan di sebelahku. Aku justru tidak ingat siapa nama orang yang duduk tepat di sebelahku namun yang pasti, namanya berakhiran dengan suku kata "an". Hal inilah yang menjadi dasar bagi si anak di seberang meja itu menebak namaku "Julian". Dia salah karena namaku Zulfan. Namun dia juga benar karena namaku berakhiran dengan "an". Kini si anak di seberang meja itu yang memperkenalkan diri. Ternyata, dia adalah Gabriel. Anak yang namanya sempat aku bahas di awal cerita. Dia adalah mahasiswa Ilmu Komputer di Universitas Gadjah Mada. Sejak awal, aku selalu melihatnya tersenyum. Tidak sekalipun dia terlihat lelah. Yang penting senyum anjrit. Berkenalan dengan Gabriel juga merupakan keuntungan bagiku di awal acara karena dia juga sudah kenal dengan sejumlah kawan. Jadi, aku tinggal ikut nimbrung sama dia aja.
ralat: Ternyata Didi kuliah jurusan Pendidikan Bahasa Inggris :)
---
end of part 2.

.png)


Comments
Post a Comment