One Year of The IOI: A Volunteer's Story Unfolded [Part 1]
Hampir tepat setahun yang lalu, ukiran menawan dalam hati mulai tergores dalam memori. Di kota yang kerap kali masyarakat sebut sebagai Kota Istimewa, aku mendapat pengalaman baru yang tidak akan mungkin bisa dilupakan. Semalam sebelum para kontestan diantar kembali ke tanah air masing-masing, Cintya bilang kalo pengalaman volunteering di 34th IOI Yogyakarta bakal jadi core memory di hidupnya, dan yang pasti bukan hanya dia yang merasa demikian. Dalam tulisan ini, aku bakal menceritakan semuanya dari awal hingga akhir. Sekalian biar tulisan ini bisa aku jadikan kenang-kenangan di masa mendatang.
Cold Boring Night in Sidoarjo
Bila diingat kembali, malam itu adalah malam yang cukup membosankan. Aku batal main Valorant karena disuruh-suruh sama bapak dan di malam hari, aku harus kembali berkutat pada skripsiku yang tidak kunjung selesai. Sesaat sebelum tengah malam, aku menutup laptop dan mulai mematikan lampu kamar. Heatmap berubah dari kursi belajar menuju kasur tempat aku melemaskan punggung yang sudah bungkuk berjam-jam akibat tugas akhir. Tak lama, aku mulai membuka platform berlogo burung terbang yang menjadi media ngoceh tentang keseharianku.
Ngga kerasa, aku udah scrolling twitter selama satu setengah jam. Aku inget betul kalau aku mendengar burung dara peliharaan Bapak berkicau di jam 1.37 pagi. Mata mulai pedih, aku mulai berniat untuk menghentikan early screen time hingga sebelum aku meletakkan ponsel samsung keluaran 2018-ku itu, aku melihat promoted tweet yang ngga pernah aku lihat sebelumnya.
Volunteer Opportunity: Liaison Officer for International Olympiad in Informatics (IOI). Yuk ikut jadi volunteer di salah satu kompetisi pemrograman tingkat SMA paling bergengsi sedunia, yang tahun ini akan diselenggarakan di Yogyakarta, Indonesia. A thread.
— Reinhart Hermanus (@reinharthrm) May 27, 2022
Tweet ini sangat menarik perhatian. Ngga seperti promoted tweet biasanya yang bermuat iklan Oppo smartphone atau promo Bank, tweet ini isinya ajakan untuk bergabung sebagai volunteer di acara yang bahkan aku belum pernah dengar eksistensinya selama ini: International Olympiads in Informatics. Sebenernya aku tertarik, cuma ada rasa curiga di dalam pikiran: scam kah? Gimana ngga curiga? 1) Isi utas menjelaskan kalau intinya volunteer tinggal kerja aja. Makan + akomodasi sudah all in dan 2) Dini hari itu, engagement dari tweet tersebut masih sangat rendah. Too good to be true.
Sependek ingatan yang aku miliki, postingan oleh seseorang yang nantinya menjadi mentor kami ini hanya memiliki sekitar 60 likes. Karena ada keraguan, aku bangkit dari kasur, kembali menyalakan lampu kamar, dan membuka laptop yang bila aku pegang bagian bawahnya, masih terasa panas. Sesaat setelahnya, kucari sebuah nama di Google. Reinhart Hermanus. Hasil paling atas dari mesin pencari menautkan profil LinkedIn. Sheeeeeshhhh. Bukan main-main profilnya. Bagian paling kuingat dari profil orang yang nantinya dipanggil Kak Reinhart ini adalah tertulis kalau dia pernah magang di Facebook. Dari situ aku mulai mikir: ngga mungkin orang kaya gini aneh-aneh. Kumasukkan tweet dari Kak Reinhart ke dalam bookmark. Puas mendalami LinkedIn Kak Reinhart, rasa ragu dalam hati kemudian berganti rasa kantuk yang tak lama langsung menghilangkan kesadaranku.
First Timer in Every Aspect
Besoknya, usai sholat duhur, aku mulai mengisi form yang diinstruksikan untuk diisi sebagai syarat pendaftaran volunteer. Di dalamnya, terdapat sejumlah informasi yang harus dilengkapi oleh para pendaftar. Menurutku, pokok dari form-nya terletak pada task yang diberikan kepada para pendaftar. Kami diminta membuat video perkenalan dalam Bahasa Inggris yang durasinya tidak lebih dari 2 menit. Tidak hanya itu, seingatku, kami turut diminta untuk menarasikan argumen kami tentang unpopular opinion tentang Indonesia as tourist destination, juga pengalaman liburan yang tidak terlupakan dan sama seperti video perkenalan, narasi harus ditulis dalam Bahasa Inggris. Untungnya, aku bisa menyelesaikan semua dengan cukup cepat dan semua persyaratan sudah aku submit setelah isya. Satu kata: plong. Setelahnya, aku kembali mengerjakan skripsi hingga tengah malam.
Yang tidak aku ketahui, ternyata tim rekrutmen volunteer IOI bergerak cepat. Hal tersebut baru aku sadari ketika aku mulai membuka laptop di pagi hari dan saat itu, aku melihat ada undangan interview dari Kak Reinhart yang dikirimkan kepadaku JAM. SETENGAH. 2. PAGI?????????? Damn. Senang dan panik bercampur jadi satu. Senang, karena ini pertama kalinya aku dapat undangan interview dan panik, juga karena ini pertama kalinya aku dapat undangan interview. Aku memang bukan mahasiswa yang aktif di perkuliahan. Malas berorganisasi + ngga pernah magang. Kak Reinhart menyampaikan bila wawancara akan dilakukan dengan berbahasa Inggris, yang mana sebenarnya bukan masalah buat aku. Tapi pasti akan sangat menegangkan untuk memiliki pengalaman pertama interview dengan Bahasa Inggris karena jangankan itu, interview Bahasa Indonesia saja belum pernah.
Rasa panik ini membuat aku gercep untuk menghubungi seorang teman baik di perkuliahan yang sekarang dia berkarir di dunia HRD. Namanya Sandra, tapi aku dan teman-teman lebih sering memanggilnya dengan Cece. Aku tanya Cece apa aja yang harus aku siapkan untuk wawancara. Dia bilang kalau aku harus bisa menjawab pertanyaan basic seperti "introduce yourself" dan "what are your strenghts?" Sisanya, mungkin akan menyesuaikan CV yang dikirimkan. Aku juga menghubungi teman yang sedang berkuliah di Spanyol. Namanya Fariz, dan dia bilang kalau selama pewawancara bukan native speaker, maka broken english is okay. Baiklah, semua masukan aku persiapkan agar semuanya berjalan lancar.
First Interview. Ever.
Ngga kerasa, waktunya interview telah tiba. Mau ngga mau, siap ngga siap, aku harus menekan tautan yang diberikan kepadaku oleh bot yang mengatur jalannya wawancara. Selama beberapa hari, aku berlatih wawancara di depan cermin setinggi satu setengah meter yang tergantung di kamarku dan kini aku akan melaksanakan wawancara pertamaku dengan Bahasa Inggris.
Saat tautan telah aku tekan, aku langsung diarahkan secara otomatis ke dalam server Google Meets yang telah dipersiapkan dan ternyata aku menjadi yang terlebih dahulu untuk berada di sana. Kak Reinhart baru masuk sekitar 3 menit setelahnya. "Hi!" sapa Kak Reinhart. Dia juga meminta maaf karena terlamat join ke sesi terjadwal selama beberapa menit yang mana itu juga bukan masalah buatku. Sesuai kata Cece, Kak Reinhart memintaku untuk memperkenalkan diri yang mana permintaan tersebut aku jawab dengan jawaban yang telah aku persiapkan beberapa hari sebelumnya.
Yang bikin kaget, pertanyaan yang ditanyakan selanjutnya oleh Kak Reinhart ternyata di luar prediksi yang telah aku siapkan. Kak Reinhart justru menanyakan hobiku, jurusanku di perkuliahan, serta mengapa aku tertarik untuk belajar ilmu UI/UX padahal aku mahasiswa Ilmu Politik. Semua pertanyaan itu akhirnya aku jawab secara improvisasi dan syukurnya, aku tidak gagap dalam menjawab semuanya.
Di akhir wawancara, aku sempat menanyakan sejumlah hal seperti bagaimana panitia menentukan negara yang ditugaskan kepada volunteer. Kak Reinhart bilang kalau kami bisa memilih negara mana yang menjadi preferensi kami dan aku menyampaikan ketertarikanku pada Portugal atau Brazil karena aku bisa sedikit-sedikit bicara Bahasa Portugis. Dia bilang kalau mencatat permintaanku tadi. Pertanyaanku habis, namun aku masih punya permintaan. "Excuse me, Mr. Reinhart. Because this is my first interview session ever, with your permission, would you let me take a screenshot of us doing this interview? I want to show it to my mom. She will be happy". Kak Reinhart mengiyakan permintaanku dan kemudian aku menekan tombol Prt Sc yang terletak di bagian atas keyboard laptopku. Setelahnya, aku merasa semuanya telah cukup dan kami berpamitan untuk keluar dari room interview kami. Semuanya usai.
![]() |
| Foto bareng Kak Reinhart |
Beberapa pekan kemudian, ada sepucuk surat elektronik singgah di kotak masuk milikku. Adalah Kak Reinhart, yang mengabarkan bahwa semua proses pendaftaran telah berhasil aku lewati dan dengan ini, aku diterima menjadi bagian dari volunteer yang akan membantu jalannya salah satu kompetisi tingkat SMA tertua di muka bumi. Bukan main rasa senangnya. Tak membutuhkan waktu lama, aku menghubungi Cece, menyampaikan kalau bantuannya berhasil mengantarkanku hingga sejauh ini. Tanpa disadari, Cece berperan banyak dalam kehidupanku di masa perkuliahan. Lain kali, aku akan cerita tentang Cece dan juga beberapa teman lain yang aku temui di perkuliahan.
---
end of part 1.


Comments
Post a Comment